Pelintas Zona Pandemi

by - May 14, 2020

pic source: Kemenkes RI


Kini semuanya diminta untuk menerima

Dunia dihadiahkan dengan soal ujian tak terduga

Membekukan lini masa sementara

Sampai-sampai bersembunyi dalam kekhawatiran yang meronta

 

Namun hal itu tak berlaku bagimu

Panggilan tugas untuk pandemi sudah menanti

Menyambut ancaman yang kau anggap sebagai kawan

 

Kali ini kau bekerja lebih panjang dari biasanya

Beban yang kau pikul lebih runyam dari hari-hari sebelumnya

Melupakan takut jauh ke dasar relung

Menyemai berani dibalut cemas yang menggunung

 

Seperti pagar yang dekat melindungi

Kau menerima lingkungan yang tak menghiraukan

Menganggap keberadaanmu hanya sebagai hiasan padahal paling depan

Mulia kau menelan pandangan itu, dan terus memperkuat langkahmu

 

Kau pagar yang terus menjaga, merawat, dan memelihara

Kau garda yang terus melayani, memantau, dan merekam peristiwa

Tak perlu orang paham, bahwa setiap hari kau bertaruh nyawa

Meramu cara bagaimana agar terselematkan semua

 

Namun jika kau lelah, rebahkan sejenak pikirmu

Tapi tetaplah disini, jangan pernah berpikir untuk lari

Perjuangan jangan sampai terhenti

 

Jika nanti badai ini pergi, ijinkan kami hadir memelukmu

Menyeduhkan secangkir teh hangat sebagai teman  beristirahat

Menepuk pundakmu dan sembari berkata

“Terimakasih telah berjuang, 

terimakasih telah mengajarkan kami apa makna sabar untuk sehat, 

hingga kita semua bisa bernafas dengan penuh syukur nikmat.”


Malang - Batang, 3 Mei 2020

---

Puisi ini didedikasikan untuk para tenaga kesehatan pelayanan primer yang merupakan pelintas terdekat dengan masyarakat dalam masa pandemi COVID-19. Saya dan Mbak Wirantika diajak kembali untuk berkolaborasi menyusun puisi untuk memberikan semangat bagi mereka. Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI menerbitkan protokoler bagi Puskesmas untuk tatalaksana pelayanan selama pandemi COVID-19 yang berjudul "Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas Masa Pandemi COVID-19". Puisi ini terlampir pada halaman depan protokoler tersebut.

You May Also Like

0 comments

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Powered by Blogger.

Translate