Lesson Learned Menjadi Fasilitator Posyandu

by - January 29, 2021

Holaaaa rasanya lama sekali tidak bersapa di blog ini. Mari kita hempaskan debu-debu akibat ditinggal empunya. Selama setahun kemarin, benar- benar tidak produktif dalam hal menulis, terutama di blog. Pandemi membuat kepala kadang tidak mau diajak kompromi wkwk.

Oke, lagi-lagi yang namanya hutang ya harus dilunasi, dan terus kepikiran sebenarnya kapan ya kira-kira sharing soal pengalaman sewaktu bertugas di Padang Pariaman. Hmm... mungkin nggak banyak yang bisa saya ungkapkan dengan lengkap disini, karena sangat amat banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat selama 6 bulan disana. Jadi cerita di bawah ini rasanya hanya baru permukaannya saja hahaha... pernah merasakan gempa 5.2 SR dua kali, momen idul adha yang baru, mengunjungi festival daerah, ikut kegiatan masyarakat setempat, wah banyak deh. Lah... jadi rindu kan. Feel free to ask me directly ya, kalau dari kalian ada yang masih penasaran detailnya program ini bagaimana sih mulai dari seleksi dokumen, direct assessment (psikotest, wawancara, LGD, praktik fasilitasi), medical check up, training karantina sampai penempatan dan pulang untuk evaluasi. Okedeh, happy reading!

Lomba Kader Posyandu Berprestasi yang pertama kali
diadakan oleh Nagari Kasang

Saya ditempatkan di Nagari Kasang, Kec. Batang Anai, Kab. Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Posyandu yang saya dampingi ada 5 yaitu Posyandu Duku, Posyandu Bintungan, Posyandu Tong Blau, Posyandu Jambak 1, dan Posyandu Simpang Pertanian. Fasilitator posyandu adalah orang yang ditempatkan di suatu daerah untuk benar-benar tinggal dan dekat dengan masyarakat sasaran posyandu. Tugasnya adalah memberikan pendampingan kepada kader terkait hal-hal apa saja yang perlu ditingkatkan dan membiasakan apa yang sudah baik. Fasilitator bukanlah orang yang tahu banyak hal dan jadi superior, kami hanya mendampingi dan mensupport apa yang sebenarnya potensi itu sudah ada. Para ibu-ibu kader ini tentu lebih berpengalaman mengurusi Posyandu wilayah kerja mereka, bahkan ada yang sudah jadi kader sejak tahun 1984 (which is itu awal-awal Posyandu didirikan kan). Fokus fasilitator memberikan pendampingan seperti penguatan kembali sistem 5 meja, membiasakan membuat makanan tambahan olahan dari pangan lokal, kemudian meningkatkan pengetahuan kader terkait informasi kesehatan ibu dan anak yang terus berkembang. Harapannya dengan adanya pendampingan, kader dan masyarakat sekitar posyandu memiliki kepedulian yang lebih lagi untuk memastikan ibu hamil dan balita dalam keadaan yang sehat dan baik status gizinya.

Posyandu binaan di 5 korong yang berbeda

Bicara best moment, menurut saya semenjak menginjakkan kaki pertama kali di tanah minang sampai pulang penempatan semuanya best, hehe. Kalau ditanya rasanya mendampingi bagaimana, justru rasanya saya yang seperti banyak belajar dari ibu-ibu kader ini. Tentu banyak hal yang terkenang, salah satu momen saat pendampingan yaitu pasca hari apresiasi posyandu. Seusai hari itu, 2 hari berturut-turut ibu-ibu kader hadir ke kos membawakan banyak sekali oleh-oleh yang bermacam sampai dibantu packing dan sebagainya, berdatangan sampai malam H-1 pulang. Saat itu sontak merasa kayak punya banyak ibu, punya banyak doa, dan perasaan kehilangan itu hadir ketika momen perpisahan itu datang. Sebenarnya jauh hari bahkan sebulan sebelum purna tugas, juga sudah banyak ibu-ibu dan anak-anak yang sudah mellow duluan wkwk. Momen best lainnya itu ketika mengetahui bahwa dari Posyandu lain (yang bukan Posyandu dampingan) meminta kader Posyandu dampingan untuk mengajarinya mengenai pembukuan Posyandu yang rapi dan sistematis, belajar bersama mengenai apa itu SKDN dan transfer knowledge lainnya. Seneng, senenggg banget, ibu-ibu kader ini secara tidak langsung sudah menjadi fasilitator bagi Posyandu korong lainnya. :") *foto dibawah ini mengandung bawang dan semangat


Dapat foto kiriman dari Bu Rita (jilbab merah, kader Posyandu dampingan) sedang sharing mengenai format pencatatan Posyandu dan cara membuat balok SKDN

Lalu, sewaktu diadakannya Lomba Kader berprestasi, pertama kali diadakan atas inisiatif bersama saat rapat PKK bulanan, ibu kader Posyandu dampingan, mendapat juara I. Bukan main, antusias dari korong-korong lainnya untuk belejar ke kader Posyandu dampingan semakin meningkat. Tentu tidak jarang mendengar desas desus, ada yang protes dan ingin juga mendapat pendampingan fasilitator. Dalam hatiku, kalau aku punya waktu lebih, mau banget Bu. Sedangkan sendirian mendampingi 5 Posyandu dengan jarak antar korong yang tidak dekat, cukup menguras tenaga. 
Tapi alhamdulillahnya, keinginan itu terjawab secara tidak terencana, beberapa hari kemudian, kepala Puskesmas meminta saya untuk menjadi narasumber pada pelatihan kader Posyandu yang diadakan oleh Puskesmas untuk kader-kader se-Kecamatan Batang Anai. Seneng banget bisa sharing best practice selama ini ke lebih banyak lagi Posyandu. *ini diluar rencana aktivitas program tapi harapannya berdampak lebih luas

Dokumentasi pribadi

Shocking moment awal-awal itu pas keliling dusun dan memetakan wilayah posyandu, daerah baru,  nggak tahu sama sekali, babat alas ya isitilah jawanya, nyasar-nyasar nyari rumah kader-kadernya. jarak antar Posyandu nya cukup jauh, medannya menantang sih karena merupakan jalur lintas Sumatera. Sampai yang paling membekas tuh pernah juga mengalami kecelakaan saat berkendara dan dilarikan ke rumah sakit. Shocking moment banget itu mah. Merepotkan banyak pihak wkwk. Tapi yang aku suka dari Nagari Kasang, adalah alamnya yang masih asri banget, ada tempat pemandian, dengan sumber air langsung dari pegunungan gitu jernih dan segar.


Dokumentasi pribadi

Kedua, tentu bahasa. Sebenarnya bahasa Minang tidak beda jauh kok dengan bahasa Indonesia, hanya cara pengucapan dan logatnya saja yang tentu beda jauh. Sehingga perihal kesulitan bahasa ini dirasakan pada saat bulan pertama saja. Bulan-bulan selanjutnya, setelah tentunya banyak ikut kegiatan warga setempat, pengajian setempat, acara PKK, kerja bakti gotong royong, dan kegiatan tradisi setempat lainnya. Komunikasi terjalin dengan baik. Bisa dibilang 6 bulan itu adalah waktu yang kurang ya untuk proses pendampingan semacam ini. *ya karena ini sudah terprogram gimana lagi haha. Akan tetapi hal yang perlu disadari keberadaan kami yang tidak lama ini, bahwa transfer knowledge yang bener-bener harus diupayakan untuk dilanjutkan kepada local champion. Kami memanggilnya Bu Yen, beliau ketua PKK Nagari Kasang, sekaligus Kepala Sekolah TK. Diluar program Posyandu, tak jarang kami diajaknya untuk sharing juga mengenai gizi seimbang dan informasi KIA lainnya kepada orang tua dan anak didik. Bu Yen, yang kami titipi untuk melanjutkan pendampingan, untuk terus merawat dan menjaga hal-hal baik yang sudah terlaksana, kerjasama lintas sektor yang sudah terjalin, dan semangat berbagi kepada Posyandu diluar dampingan. I Love You, Bu Yen. 💜

Aku, Bu Yen, Kak Tuti dan Kak Hotni (Fasilitator Sekolah), saat mengantarku di bandara untuk balik ke Jakarta

Perubahan dalam diri yang saya rasakan sepulang dari pengalaman training, karantina bersama teman-teman fasilitator lain dan ditambah merasakan tinggal jauh dari rumah alias ini bener-bener di luar Pulau Jawa, budaya baru, adat dan bahasa baru. Saya menjadi pribadi yang lebih tenang dan lebih kompleks lagi dalam menyikapi atau memandang sesuatu hal. Dasarnya memang saya tipe orang yang suka overthinking. Tetapi sekarang, lebih kepada menerima setiap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Sehingga ketika sesuatu hal yang dipikirkan terjadi, saya sambut dengan lapang, kayak bener-bener ya udah ambil pelajarannya gitu. Kalaupun mencegah sesuatu hal buruk agar tidak lebih buruk ya, kayak membuat banyak opsi, banyak jalan pintas yang bisa dilalui, dan coba berani ambil jalan lain. Lebih bisa mengelola ekspektasi sih, kayak lebih santai aja dalam menyikapi apa yang akan terjadi. Udah jalani aja dan terima baik buruknya.

Mengenai perubahan yang terlihat di Posyandu, senang rasanya melihat hal kecil yang dilakukan secara kontinyu seperti menggunakan sistem karcis di meja pendaftaran, mengisi KMS dan mampu menginterpretasikannya, memberikan informasi kesehatan ibu dan anak, menyajikan PMT dari pangan lokal, dan hal-hal kecil lainnya. Kemudian ada aktor-aktor setempat yang awalnya pasif menjadi tergerak untuk ikut andil dalam mengoptimalkan fungsi Posyandu. Itu sebuah dampak yang membahagiakan dari program sih menurut saya. Harapannya ke depan pembelajaran yang saya tinggalkan bisa bermanfaat dan terus dikembangkan. Sebenarnya, again disini saya yang lebih banyak belajar dari ibu-ibu kader hebat ini, hehe.

Sharing antar Posyandu 

Nah sebenarnya apa sih tugas saya? Saya ngapain aja disana?

Penting untuk menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas setempat, pihak Nagari, pihak Korong, Kader Posyandu dan orang tua balita tentunya. Secara garis besar beberapa aktivitas yang harus ditempuh untuk mewujudkan Posyandu secara efektif dapat mengukur, mencatat dan memberikan rekomendasi tentang pertumbuhan bayi dan balita serta mendorong orang tua untuk bisa paham dan sadar mencukupi kebutuhan gizi anaknya. Adapun aktivitas yang selama 6 bulan saya lakukan disana untuk sasaran kader Posyandu :

  • Pelatihan peran kader saat Posyandu
  • Pendampingan untuk kader pada pelaksanaan Posyandu
  • Fasilitasi perencanaan kunjungan rumah (home visit)
  • Pendampingan untuk kader saat melaksanakan Pos Gizi ke orang tua
  • Pelatihan peran kader diluar hari Posyandu

Lalu, apa saja materi yang didapatkan oleh kader Posyandu?

Sebelum diterjunkan ke lapangan, kami semua fasilitator sudah dibekali dengan materi-materi terkait begitupun dengan cara-cara konseling, komunikasi, advokasi dll. Modul-modulnya pun sudah disusun, namun disisi lain mengenai media penyuluhan/pelatihan dan keperluan tambahan lain itu merupakan kreatifitas kami para fasilitator di lapangan. Meramu berbagai cara dan metode yang mamputatalaksana dan mudah dipahami sesuai sikon masing-masing. Ini tantangan banget! Meskipun workplan sudah disusun sedemikian rupa, kondisi di lapangan itu sangat amat dinamis, misal saja masalah waktu, untuk bertemu dengan ibu-ibu kader ini paling nggak ya jam-jam sore ke atas, kemudian menyusun dan membuat media pembelajaran orang dewasa yang mudah dimengerti dan aplikatif. Belum lagi, cuaca, kondisi jalan desa dan siap-siap kena PHP kalau-kalau tiba-tiba pertemuan dibatalkan oleh ibu-ibu kader ini karena sesuatu hal. Seru pokoknya, belum lagi masalah kehabisan bensin karena fuel indikator motor sewaan punyaku udah mati, sering lupa pas di tengah perjalanan kehabisan. Pernah tuh tuntun motor kehujanan sambil cari-cari penjual bensin eceran yang bisa dibilang jarang, hahaha. Pengalaman nggak terlupakan.

Adapun poin-poin materi pelatihan yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu adalah materi yang tentunya sudah mereka pelajari bertahun-tahun baik formal maupun informal, saya hanya merefresh ulang dan menambahkan informasi mutakhir serta memfasilitasi ibu-ibu kader yang bertanya mengenai materi kesehatan ibu dan anak :
  • Fungsi 5 meja
  • ASI Eksklusif dan MPASI
  • Kesehatan Ibu dan Anak
  • Imunisasi
  • Komunikasi dan konseling
  • PHBS Rumah Tangga
  • Variasi PMT
  • Perencanaan kegiatan
  • Sharing antar Posyandu

Forum multi-stakeholder

Kemudian selain fokus menjadi pendamping kader, kami (fasilitator) juga ditugaskan untuk melakukan pelibatan sebagai bentuk keberlanjutan program. Pada kesempatan, terlaksananya forum multi-stakeholder yang pesertanya merupakan para pemangku kebijakan yaitu pihak perusahaan selaku yang mempunyai program social investment CSR, pemerintah desa, Puskesmas, PKK, Posyandu dan tokoh masyarakat lainnya untuk berdiskusi mengenai Posyandu impian, rencana tindak lanjut dan sharing lainnya. Dimulai dari sharing antar Posyandu, antar bidan desa, kemudian antar wali korong, lalu kami menggambar bersama, brainstorming bersama, mind mapping bersama, untuk kemudian tersusun draft RTL (Rencana Tindak Lanjut) yang disepakati bersama untuk diwujudkan.
---

Momen waktu pengumuman penempatan fasilitator Posyandu
(1 orang) dan fasilitator sekolah (2 orang) ke daerah yang berbeda-beda
(Padang Pariaman, Lampung Selatan, Cirebon, Malang, Mamuju dan Enrekang)

Momen hari terakhir di penempatan (in memoriam Pak Wali Nagari)

ps: masih banyak sebenarnya stok foto momen-momen saat training dengan rekan sesama fasilitator, bersama ibu-ibu kader saat pelatihan, bersama orang Puskesmas, suasana ketika anak-anak hadir di Posyandu, kegiatan adat warga setempat, dll yang rasanya juga tersimpan baik di memori ingatan.
___

Senengggg banget rasanya kalau dikirimi foto-foto kegiatan ibu-ibu kader, meskipun sudah tidak lagi bertugas disana rasanya bahagia sekali bisa melihat Posyandu nampak semakin maju, ibu-ibu balita ramai hadir,  ibu-ibu kader menjadi terbiasa dengan keteraturan pelaksanaan 5 meja, makin kompak dengan seragam-seragamnya dan media-media Posyandu yang rajin tertempel. Sungguh keberhasilan keberlanjutan hasil program ini bukan apa-apa, kecuali ibu-ibu kader sendirilah yang terus menjaga semangat mengabdinya. Terima kasih ibu-ibu kader hebat!

Foto dikirim oleh ibu kader Posyandu Bintungan dan Simpang Pertanian pada saat pelaksanaan hari buka Posyandu saat pasca PSBB (tepat 2 bulan kepulangan, pandemi melanda, kegiatan Posyandu pun sementara diliburkan)

---
Ulasan mengenai program selengkapnya:
Website Dinkes Kab. Padang Pariaman klik disini
Kompasiana Pak Wali Nagari Kasang klik disini

You May Also Like

0 comments

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Powered by Blogger.

Translate